Total Tayangan Laman

Subscribe:

About

Labels

Selasa, 18 Oktober 2011

Pancasila atau Naskah yang Wajib Dibaca saat Upacara ??



Berbicara tentang kemajemukan Indonesia kita akan langsung teringat tentang Bhineka Tunggal Ika yang menjadi slogan negara ini,slogan yang diambil dari kitab sutasoma karangan  Mpu Tantular. Slogan yang juga tercantum dalam lambang negara kita, di dalam cengkeraman kaki kokoh burung Garuda mempunyai arti yang sangat mendalam. Slogan itu mempnyai arti bahwa perbedaan yang ada di Indonesia mulai  dari suku,ras,agama,seni,kultur,bahasa,pemikiran, dsb bukan menjadi alasan disintegrasi bangsa ini. Kita semua satu, satu tanah air, satu bangsa, satu jiwa, satu tumpah darah.
Ironi,kala kehidupan hedon telah membelenggu diri kita, kita melupakan satu hal penting yang harus kita lakukan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air di Indonesia. Kita melupakan makna Bhineka Tunggal Ika. Bukannya persatuan bangsa yang terjadi namun justru menjadi perpecahan bangsa, “perang saudara” terjadi dimana-mana, kerusuhan antar warga, pemberontakan, kian marak di negeri ini. Pernahkah kita mengingat kerajaan Majapahit yang sangat berjaya di dunia pada masanya,kini hanya tinggal sejarah karena diakibatkan oleh adanya perang saudara. Suatu kerajaan besar seperti itu saja bisa runtuh karena ketidakstabilan yang dikarenakan lunturnya persatuan. Akankah kita ulangi kejadian yang sama ? mungkin, hal itu sangat mungkin terjadi, saat negara ini baru belajar berdiri agar mampu berjalan beriring dengan negara lain yang telah maju, sangat dibutuhkan rasa kesadaran seluruh rakyat agar kita bisa hidup bersama, membangun bersama, bahu membahu memajukan negeri ini.
Namun sungguh sangat disayangkan, persatuan yang dicita-citakan leluhur kita kini kian sulit tercapai. Tiap individu selalu berego tinggi tanpa mempedulikan orang lain. Maka perjuangan Bung Karno 1 Juni 1945 silam dalam merumuskan “ PERSATUAN INDONESIA “ dalam Pancasila seakan percuma. Dasar negara yang lahir dan dipertahankan leluhur pendiri bangsa kita dari pihak neo-kolonialis dan juga kelompok anti Pancasila puluhan tahun silam ini tampaknya mulai tidak mempunyai arti di dada para pemuda pewaris bangsa. Bukan lagi persatuan bangsa yang kita lihat melainkan ego individu maupun kelompok, yang menjurus ke arah primordialisme. Kepentingan kelompok kian kuat, inilah yang mengkhawatirkan negeri ini.
Dewasa ini masa depan kebhinekaan terancam dengan munculnya berbagai kelompok/organisasi mulai dari yang bersifat kedaerahan,agama,kepentingan,dsb. Seharusnya perbedaan agama bukan menjadi pemecah persatuan, kita lihat pada masa Nabi Muhammad SAW dengan adanya Piagam Madinah yang menjadi social contract tahun 622M pada pasal 25 menegaskan bahwa “Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf ada­lah satu umat dengan kaum mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kamu mukminin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan yang jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya sendiri.” Jaminan persamaan dan persatuan dalam kera­ga­man tersebut demi­kian indah dirumuskan dalam Pia­gam ini, sehingga dalam menghadapi musuh yang mung­kin akan menyerang kota Madinah, setiap warga kota di­tentukan harus saling bahu membahu. Dari yang disebutkan diatas dapat kita lihat bahwa kebebasan beragama tetap dijamin dan hal itu tidak menjadikan suatu alasan adanya perpecahan justru bahu membahu bersatu demi negaranya.
Dari aspek kedaerahan dengan isu budaya, adat istiadat,maupun bahasa yang berbeda juga seharusnya bukan menjadi sebab akan lahirnya disintegritas bangsa. Kita dapat berkaca dari kerajaan Sriwijaya,kerajaan maritim yang mana wilayahnya mencakup sebagian besar wilayah asia tenggara ini. Dengan wilayah yang begitu luas tentunya kerajaan ini mempunyai budaya yang berbeda di tiap-tiap daerahnya. Dengan budaya yang berbeda-beda dalam masyarakatnya dan juga terpisahnya wilayah dengan perairan laut inipun bukan menjadikan kerajaan ini terpuruk justru disegani di dunia karena masyarakatnya mampu bersatu mewujudkan stabilitas nasional.
Kini mampukah Indonesia kini menghargai Bhineka Tunggal Ika lebih dari sekedar prinsip namun juga harga diri yang harus diperjuangkan? Beban inilah yang akan diembankan kepada mahasiswa. Bersatulah para mahasiswa!!!

                          


0 komentar:

Poskan Komentar